Rabu, 13 Maret 2013

SLB Negeri Semarang, Surganya Anak Luar Biasa

Kharisma Rizki Pradana dalam acara Kick Andy

Sekolah bercat biru yang berdiri tegak di Jalan Elang Raya No. 2, Kelurahan Mangunharjo, Tembalang  pada hari itu sangat ramai oleh para siswa yang sedang melaksanakan olahraga. Tak jauh dari sana, para orang tua mereka tengah asyik bercengkrama sambil mengawasi anak-anaknya.

Itulah seklumit kegiatan yang ada di SLB Negeri Semarang ketika kami berkunjung kesana. Sekolah para anak-anak berkebutuhan khusus ini diresmikan pada tanggal 23 Juni 2005 oleh  Bapak Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah kala itu. Pendirian sekolah ini tak bisa lepas dari sosok sang kepala sekolah, Drs. Ciptono.

Dikutip dalam bukunya, Guru Luar Biasa, Membangun Sekolah Luar Biasa dari Garasi hingga Raih 9 Rekor Muri Pak Cip (sapaan akrab Drs. Ciptono-red) menjelaskan bahwa awalnya ide pendirian sekolah ini digagas pada tahun 2003 oleh Kasi SDLB-SMPLB Subdin PLB Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Bapak Tri Handoyo pada tahun 2003 karena merasa prihatin pada saat itu ibukota provinsi ini belum memiliki SLB Negeri. Dari keprihatinan itulah, akhirnya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang pada waktu itu dijabat oleh Drs. Subagya Broto Sejati M. Pd, menunjuknya untuk menjadi Ketua Komite Pembangunan USB SLB Negeri Semarang.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sekolah yang dicita-citakan rampung dalam satu tahun. Biaya yang dikeluarkan pun tidak tanggung-tanggung, 1,35 miliar rupiah! Namun persoalan tidak serta-merta selesai. Bangunan sudah selesai dibangun, namun perabotan dan siswanya belum ada. Atas inisiatif dari Pak Cip, beliau menyarankan para peserta siswa yang ia didik di garasi rumahnya untuk pindah ke sekolah baru tersebut. Sekolah di garasi yang digagas oleh Pak Cip merupakan sekolah para siswa berkebutuhan khusus dimana para orang tua sang anak tidak mau menitipkannya di sekolah luar biasa.

Walau sempat menolak, akhirnya para orang tua bersedia pindah ke SLB Negeri Semarang asalkan Pak Cip yang menjadi kepala sekolah. Setelah disepakati, akhirnya pada tanggal 4 Februari 2005 para siswa dan guru pindah ke sekolah baru tersebut. Bukan hanya itu saja, semua perabotan dan mainan anak yang menjadi bahan pembelajaran mereka pun dipindah.

Sekarang, SLB Negeri satu-satunya di Semarang itu telah berumur 7 tahun. Mulai banyak perubahan disana-sini sehingga memudahkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh akses. SLB Negeri Semarang sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu  (1) bagian akademik berkaitan dengan proses belajar mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, (2) bagian keterampilan berkaitan dengan pengembangan keahlian siswa sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, (3) dan bagian terapi berkaitan dengan proses penyembuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Namun bagian yang disebutkan terakhir, secara administrasi struktural sudah berdiri sendiri terlepas dari dua bagian lain walaupun  secara fungsional tetap melayani para siswa yang belajar di SLB tersebut.

Sistem pendidikan di SLB sendiri dibagi berdasarkan klasifikasi penyandang kebutuhan khusus, yaitu kelas A untuk tunanetra, B untuk tunarungu, C untuk tunawicara, D untuk tunadaksa, E untuk anak yang kurang bisa mengontrol emosinya, dan G untuk tunaganda atau penyandang disabilitas yang memiliki lebih dari satu disabilitas. Dalam satu kelas ada 10-15 siswa dengan diampu oleh 1 orang guru beserta asisten. Keadaan ini tentu tidak ideal, menurut Pak Aris, seorang staf pengajar disana menyatakan bahwa untuk SLB, kelas ideal adalah 1:4 atau 1 orang guru untuk mengampu 4 orang siswa. Sedangkan jenjang pendidikannya mulai dari Tk Kecil hingga SMA.

Selain akademik, para siswa juga diberi bekal agar mampu berkarya ditengah masyarakat melalui kelas keterampilan. Berbagai keterampilan diajarkan disana, seperti membatik, musik, menjahit, otomotif, dan salon. Sekedar info, SLB Negeri Semarang terbilang cukup aktif mengikuti berbagai lomba-lomba keterampilan untuk para siswa SLB. Sehingga tak heran, sosok seperti Kharisma Rizki Pradana muncul dihadapan publik dengan talentanya sebagai hasil proses belajar dia di SLB ini. Sebagai informasi, Kharisma merupakan pemegang rekor dunia sebagai anak autis pertama yang memiliki album, selain itu juga ia mampu menghafal berbagai peristiwa penting di Indonesia, puluhan merek dan tipe telepon seluler, acara-acara televise, radio, dan tanggal lahir pejabat dan menirukan berbagai pidato presiden (Ciptono, 2010). Luar biasa.
Masih dalam lingkungan SLB, selain akademik dan keterampilan ada pula bagian Terapi. Terapi yang dilakukan disini, bukan hanya terbatas pada siswa SLB Negeri Semarang saja, namun juga terbuka untuk umum. Jenis terapi yang disediakan adalah terapi okupasi (terapi untuk membantu seseorang menguasai keterampilan motorik halus dengan lebih baik), terapi wicara (terapi untuk membantu seseorang menguasai komunikasi bicara dengan lebih baik), terapi sensori integrasi (sering disebut dengan terapi SI, terapi perilaku, fisio terapi, terapi akupresur (acupressure therapy), terapi musik, terapi motorik, terapi pedagogik, dan terapi okupasi ADL.

Seperti yang diungkapkan oleh sang kepala sekoah dalam bukunya yang berjudul Guru Luar Biasa, “akan saya buat sekolah kami sebagai surga bagi anak-anak berkebutuhan khusus!”. Beragam fasilitas di sekolah ini pun disediakan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga kelak mereka dapat tumbuh secara normal” & memberi warna dalam kehidupan masyarakat. Bukankah mereka juga berhak untuk hidup normal, sama dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain?

Reza Muhammad GPD (2011)

1 komentar:

  1. SDLB Muhammadiyah Surya Gemilang == > sekarang baru mulai belajar dan mempersiapkan diri menjadi sekolah seperti Surga Bagi ABK di Kab. Semarang.Mohon Doa dan Dukungannya. Informasi Hub : Rubiyarto, S.Pd ( 08562668773)

    BalasHapus